• Ming. Jul 21st, 2024

Beritababe

Nyok Baca Berita Dari Babe DIjamin Aktual Gak Boong

Bangun Pondasi Penahan Longsor, Warga Kebumen Justru Tewas Tertimbun Longsor

ByAdmin

Jan 9, 2024

Bangun Pondasi Penahan Longsor, Warga Kebumen Justru Tewas Tertimbun Longsor

Kebumen: Longsor terjadi di Desa Donorojo, Kecamatan Sempor, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng). Akibatnya seorang warga tewas akibat tertimpa longsoran tanah.

Korban adalah Joko, 49, warga desa setempat yang tengah bekerja untuk membuat pondasi penahan tanah longsor.

Kapolres Kebumen AKB Recky didampingi Kasihumas Polres AK Heru Sanyoto peristiwa tersebut terjadi saat korban korban tengah membuat pondasi di belakang rumah tetangganya, Saedi, warga Desa Donorojo pada Senin, 8 Januari 2024.

Pondasi yang roboh saat dilakukan pengukuran, memiliki ketebalan 30 cm, tinggi 2,5 meter, dan panjang 9 meter.

“Saat mengerjakan pembuatan pondasi, pondasi lama malah ambruk terkena longsoran tanah. Kebetulan rumah Saedi, atau warga yang mempekerjakan korban, terletak di tebing,” jelasnya, Selasa, 9 Januari 2024.

Menurutnya, korban bersama dua temannya tengah membuat pondasi beton untuk menahan longsoran tanah di belakang rumah saedi. Namun hujan deras yang mengguyur daerah tersebut beberapa hari belakangan, membuat tanah tebing gembur dan longsor.

Pondasi lama tak cukup kuat menahan longsoran tanah sehingga ambruk menimpa korban.

“Keterangan saksi, pada saat itu melihat tanah bergerak menghantam pondasi, kemudian berteriak kepada korban, ‘awas-awas’ tetapi tidak mendengar. Korban tidak sempat menghindar dan kemudian tertimpa longsoran,” terang dia.

Longsor Melanda Permukiman Warga di Kuningan

Kuningan: Sebanyak tiga rumah di Desa Jalatrang, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terdampak bencana tanah longsor. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Pusdalops BPBD Kabupaten Kuningan, sebelum terjadi tanah longsor, di wilayah Desa Jalatrang diguyur hujan dengan intensitas sedang mulai pukul 12.00 WIB, Senin, 8 Januari 2024.

Wilayah Desa Jalatrang dan sekitarnya mulai hujan dengan durasi cukup panjang, yaitu pukul 12.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB dengan intensitas sedang. Setelah itu tembok penahan tanah (TPT) mengalami longsor dan mengancam rumah yang ada di atas maupun di bawahnya.

“Sebanyak tiga unit rumah terancam,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, Selasa, 9 Januari 2924.

Dengan jumlah keluarga sebanyak 4 kepala keluarga (KK) atau 9 jiwa. Tim BPBD Kuningan, lanjut Indra, telah menerjunkan tim asesmen dibantu oleh pemerintah desa Jalatrang. Untuk saat ini, tim BPBD bersama TNI, Polri dan masyarakat bergotong royong membersihkan material longsoran.

Selanjutnya dilakukan pembuatan tanggul sementara menggunakan karung-karung yang diisi oleh tanah. Selanjutnya di musim penghujan ini Indra meminta masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Terlebih puncak musim penghujan di wilayah Kabupaten Kuningan diprediksi terjadi Januari hingga Februari mendatang,” jelasnya.

Cianjur Fokus Mitigasi Hadapi Potensi Bencana di Musim Hujan

Cianjur: Intensitas curah hujan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, cenderung meningkat akhir-akhir ini. Berbagai bencana hidrometeorologi pun dilaporkan mulai terjadi di sejumlah daerah di wilayah itu.

Bupati Cianjur Herman Suherman menegaskan, sebagai daerah dengan indeks risiko kerawanan bencana cukup tinggi, Pemkab Cianjur harus menyiapkan berbagai langkah. Terutama upaya-upaya pencegahan atau mitigasi dengan tujuan agar dampak bencana bisa diminimalkan.

“Sekarang sudah masuk musim hujan. Ini memang bukan di Kabupaten Cianjur, tapi di setiap kota dan kabupaten hampir terjadi bencana. Bencana ini kan sudah sering terjadi. Kita tidak ingin hanya menangani, tapi harus fokus pada mitigasinya,” kata Herman, Selasa, 9 Januari 2024.

Mitigasi yang dimaksud Herman yaitu perlu ada upaya pencegahan prabencana. Dia mencontohkan misalnya ada konstruksi jembatan yang pondasinya tergerus arus deras aliran sungai.

“Ketika mendapati kondisi itu, segera ditangani. Mungkin dari sisi cost (biaya) akan lebih murah. Beda kalau misalnya kerusakan itu dibiarkan, kemudian jadi rusak berat atau hancur. Ini akan membutuhkan anggaran yang sangat besar, bisa mencapai ratusan juta rupiah,” terangnya.

Dampak yang akan ditimbulkan pun saat konstruksi jembatan rusak berat, sebut Herman, pasti akan terjadi ke berbagai sektor lain. Misalnya sektor perekonomian masyarakat setempat, sektor pendidikan, kesehatan, dan sektor lainnya.

“Yang rugi kan masyarakat. Sehingga dengan mitigasi ini akan jauh lebih efektif,” tuturnya.

Sayangnya, tegas Herman, upaya mitigasi prabencana jarang dilaksanakan. Karena itu, Herman berencana menyusun regulasi yang mengatur upaya-upaya mitigasi kebencanaan.

“Regulasinya mungkin nanti bisa dalam bentuk perbup (peraturan bupati). Saya yakin ini akan lebih efektif dan terpenting tidak akan mengganggu aktivitas masyarakat,” imbuh Herman.

Herman sudah memerintahkan para camat dan kepala desa berinisiatif mengecek kondisi di lapangan. Terutama mengamati berbagai infrastruktur maupun daerah berpotensi bencana.

“Semua harus bergerak. Fokus kita menghadapi bencana lebih ditekankan kepada upaya mitigasi agar bisa meminimalkan dampaknya,” jelasnya.

By Admin