• Rab. Mei 22nd, 2024

6 Fakta Trauma Karier, Luka Batin Karyawan karena Pekerjaan

6 Fakta Trauma Karier, Luka Batin Karyawan karena Pekerjaan

Fakta Trauma Karier Tidak ada yang pernah tahu bagaimana lika-liku dari pekerjaan. Kamu sebagai karyawan tentu sudah berusaha untuk membantu perusahaan dalam menggapai goals yang ditargetkan. Namun, tak jarang hambatan dalam bekerja turut “mewarnai” usahamu. Entah lingkungan kerja toksik, rekan kerja bermuka dua, hingga PHK sepihak.

Tak dapat dimungkiri, kondisi tersebut bagi sebagian karyawan bikin traumatis. Jika sudah begini, bisa jadi kamu mengalami career trauma atau trauma karier. Ketahui definisi, ciri-ciri, dan cara penangan trauma karier berikut ini. Jangan anggap remeh, ya!
6 Fakta Trauma Karier, Luka Batin Karyawan karena Pekerjaan

1. Apa itu trauma karier?

Fakta Trauma Karier Dilansir The Guardian, trauma karier sudah lama dikaitkan dengan pekerja garda depan, seperti polisi, petugas pemadam kebakaran, paramedis, dokter, dan perawat. Namun, dewasa ini karyawan dari beragam bidang tempat kerja dapat trauma karier. Sebab, setiap job desk memiliki target dan tantangannya tersendiri.

Menurut laman Entrepreneur, trauma karier merupakan cedera yang terjadi ketika seseorang mengalami peristiwa traumatis di tempat kerja. Tak hanya cedera luka fisik, tetapi juga seperti pelecehan, rasisme, perundungan atau bullying, hingga tak kunjung dipromosikan bisa menjadi penyebabnya.

Selain itu, ketika perusahaan gak memberikan keamanan, kepuasan, apresiasi, hingga gaji yang tak sepadan–hal ini juga bisa menjadi trigger munculnya trauma karier pada karyawan.

2. Ciri-ciri trauma karier
6 Fakta Trauma Karier, Luka Batin Karyawan karena Pekerjaan

Fakta Trauma Karier Laman YourTango mencatat, trauma karier bisa berdampak jangka pendek hingga panjang. Tak hanya berbahaya bagi kesejahteraan fisik, namun juga emosional dari pekerja.

Jika kamu mengalami beberapa deretan gejala yang dirangkum dari laman Entrepreneur berikut setelah mengalami perlakuan negatif di kantor, ada baiknya segera kunjungi dokter, ya. Berikut ini gejala atau ciri-ciri umum dari trauma karier:

  1. Mati rasa.
  2. Susah tidur.
  3. Sulit konsentrasi.
  4. Tidak mampu mempertahankan rutinitas.
  5. Bermasalah ketika memiliki tugas kantor berlebih.
  6. Cemas, serangan panik, dan depresi.
  7. Mengisolasi diri dari teman atau keluarga.
  8. Agresif dan mudah marah.
  9. Masalah pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar (IBS).
  10. Halusinasi akibat depresi dan gangguan kecemasan yang ekstrem.

3. Penanganan akibat trauma karier

Fakta Trauma Karier Jika mengalami trauma akibat karier yang kamu jalani, jangan panik, ya! Tenang, kamu tidak sendirian, kok. Memang hal tersebut menyakitkan tetapi kamu tetap bisa pulih melalui beragam cara.

Salah satunya, kamu bisa ceritakan pada orang terdekat yang kamu percaya. Dengan kamu menceritakan keseluruhan kejadian yang kamu alami, tentu hati akan terasa lebih lega, tenang, dan kesadaran diri kembali pulih.

4. Prioritaskan diri sebagai pertolongan pertama

Fakta Trauma Karier Selain bercerita kepada orang terdekat yang kamu percaya, pertolongan pertama yang bisa kamu lakukan adalah memprioritaskan diri terhadap kebutuhanmu. Kamu bisa ambil jeda istirahat yang cukup di antara kewajiban kerjamu.

Tak ada salahnya untuk ambil cuti, lho. Kamu berhak berlibur sejenak sebagai self-reward atas kerja kerasmu di perusahaan. Sembari berlibur, perbaiki pula pola makan dan tidurmu yang mungkin berantakan selama aktif bekerja. Jangan lupa, usahakan makan 4 sehat 5 sempurna dan tidur 7-8 jam, ya!

5. Tentukan akar penyebab trauma karier

Fakta Trauma Karier Beberapa orang tidak sadar jika dirinya mengalami trauma karier. Namun, jika kamu sudah mengalami gejala yang disebutkan di atas, ada baiknya identifikasi pula akar penyebabnya.

Dilansir  EHS Today, sebuah kuesioner yang diadakan oleh lembaga kesehatan holistik, Workplace Options, mencatat beberapa akar penyebab dari trauma karier. Hasilnya, terdapat empat penyebab teratas yang dialami oleh pekerja.

  • Perusahaan kerja mengumumkan PHK (28 persen).
  • Kekerasan di tempat kerja atau aktivitas kriminal (25 persen).
  • Kematian seorang kolega (19 persen).
  • Bencana alam yang berdampak pada tempat kerja (14 persen).

Dalam kuesioner tersebut juga didapati bahwa perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan dalam trauma karier. Perempuan cenderung khawatir tentang kekerasan dan aktivitas kriminal. Sedangkan laki-laki trauma karena meninggalnya rekan kerja. Kemudian, pekerja berusia muda khawatir tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) atau kehilangan pekerjaan.

Ketika sudah mengerti akar penyebab dari trauma karier yang kamu alami, tak ada salahnya untuk terbuka dan menceritakan hal tersebut kepada orang terdekat yang kamu percaya. Atau, jika kamu membutuhkan pencerahan hingga solusi, kunjungi dokter seperti psikolog atau psikiater, ya. Tak perlu malu dan takut jika ke dokter, sadari bahwa kamu butuh pertolongan agar kembali pulih.

6. Nikmati momen positif walau sesaat
6 Fakta Trauma Karier, Luka Batin Karyawan karena Pekerjaan

Fakta Trauma Karier Jika pada akhirnya kamu harus bertahan di perusahaan yang toksik karena prioritas finansial, hal tersebut wajar. Ada baiknya kamu mulai menikmati momen-momen positif walau hari yang kamu jalani selalu berat.

Apalagi jika kamu mengalami trauma karier, otak akan selalu waspada terhadap adanya potensi bahaya. Dilansir Harvard Business Review, kamu bisa melatih sisi emosionalmu agar kembali positif melalui praktik di bawah ini.

  • Kenangan positif: Ambil waktu 10 menit untuk merenungkan pikiran dan emosi yang terkait dengan momen menyenangkan di dalam hidupmu.
  • 3 hal baik dalam hidup: Tuliskan 3 peristiwa positif setiap hari dan renungkan mengapa itu bisa terjadi.
  • Berbagi dengan orang lain: Walau harimu berat dan lingkungan sekitarmu toksik, alangkah baiknya menciptakan kebiasaan untuk berbagi dengan sekitar–baik dengan kolega atau orang yang dicintai–akan membuat dirimu lebih berharga.
  • Afirmasi untuk diri sendiri: Hargai dirimu yang sudah berusaha dan kuat sepanjang hari, berikan afirmasi seperti rasa terima kasih dan memberikan self-reward.
  • Imajinasi positif: Pikirkan hari esok dan bayangkan secara detail semua hal baik yang bakal terjadi. Tentu imajinasi yang digunakan sesuai porsi akan berdampak baik, kok.

Sekali lagi, jangan anggap remeh trauma karier, karena hal ini bisa terjadi pada siapa saja. Jika kamu tak bisa menghadapinya sendirian, kunjungi psikolog atau psikiater profesional untuk mendapatkan solusi dan perawatan terbaik. Ingat, kamu berharga dan memiliki value!

By Admin